Tidak Tahu Kita.. Bila Harinya Tanggung Jawab Tiba














Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Ke mana saja dia melangkahnya


Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya

Sempurna


Mohon karunia kepada kami

Hamba-Mu yang hina


Chrisye

Ketika Tangan & Kaki Berkata

(Chrisye & Taufik Ismail)


Ketika Tangan dan Kaki Berkata

 


Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Ke mana saja dia melangkahnya


Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya

Sempurna


Mohon karunia kepada kami

Hamba-Mu yang hina


Chrisye

Ketika Tangan & Kaki Berkata

(Chrisye & Taufik Ismail)


Kita adalah Suami Istri

 

Angin dari Bromo berbisik pada daun jati yang rindang

Sungai di Tumpak Sewu mengalir lembut, menyatu dengan samudra keabadian

Taman di jiwamu, di mana jalinan kesabaran dan tawa bersemi

Rembulan di atas widodari adalah saksi bisu cinta kita

Istriku nafasku, embun pagi bagi sukmaku yang haus

Ladang hatimu telah kupersembahkan dengan benih-benih kesetiaan

Ikatan hidup kita bukanlah sekedar ikatan 2 manusia, melainkan anyaman tenun jiwa dari cahaya pernikahan

Air mata sedih maupun bahagia adalah hujan yang menyuburkan akar-akar rumah tangga

Namun, adakah persatuan yang lebih sempurna dari diamnya dua lautan jiwa yang bertemu?

Ia adalah rahasia malam yang hanya dipahami oleh batin kita sebagai suami istri

NIKMAT ALLAH TAK TERHITUNG, BALASLAH DENGAN KETAATAN



Setiap hari kita hidup dengan limpahan nikmat Allah yaitu bisa makan, minum, tidur, bekerja, dan beraktivitas. Semua itu adalah karunia besar yang sering kali kita anggap biasa.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ ۗ


“Allah berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramalshalihlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’.” (QS Al-Mu'minūn [23]: 51).


Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat yang Allah berikan, seperti makanan dan segala hal yang halal, harus disyukuri. Dalam kitab tafsir as-Sa’di menafsirkan, tanda syukur yang benar adalah memanfaatkan nikmat itu untuk taat kepada Allah dan beramal shalih, bukan sekadar dinikmati tanpa arah.


Nikmat Allah memang tidak terhitung jumlahnya. Maka cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan menggunakannya di jalan kebaikan, agar setiap karunia menjadi sebab bertambahnya keimanan dan mendekatkan diri kepada-Nya.


Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.

__

📡 Simak kajian selengkapnya:

https://youtu.be/_0-pmvRrSTo


♻️ Silahkan disebarluaskan


🚫 Dilarang menambah dan mengurangi isi poster/video ini tanpa izin


#khalidbasalamah #khalidbasalamahofficial #ustadzkhalid #ustadzkhalidbasalamah


QS Maryam ayat 29 - 35

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاَشَارَتْ اِلَيْهِۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا 

Dia (Maryam) menunjuk kepada (bayi)-nya (agar mereka bertanya kepadanya). Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (29)


قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰىنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا 

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia (akan) memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi. (30)


وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا 

Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan) salat serta (menunaikan) zakat sepanjang hayatku (31)


وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا 

dan berbakti kepada ibuku serta Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka. (32)


وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا 

Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali).” (33)


ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ 

Itulah (hakikat) Isa putra Maryam, perkataan benar yang mereka ragukan. (34)


مَا كَانَ لِلّٰهِ اَنْ يَّتَّخِذَ مِنْ وَّلَدٍ سُبْحٰنَهٗ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ 

Tidak patut bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. (35)

Sumber: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/19?from=1&to=98

Bersyukur atas Pernikahan

 


Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami berjanji di gedung Paksur

Sujud syukur kami persembahkan pada-Mu Tuhan, tiada henti

Taubat kami haturkan dalam rangkaian istighfar,  dalam hening 1/3 malam terakhir

Rahmat Allah kan mengalir deras, membasuh dua jiwa kita yang bersatu

Ibadah ini, pernikahan ini, adalah pelita, menerangi langkah menuju Ridho-Mu

Labuhnya  cinta ini kan di Surga-Mu,  setelah mengarungi dunia yang fana ini

Indahnya ibadah berumah tangga bersama eratkan hati dalam keimanan yang tulus

Astriku, Istriku adalah anugerah Allah, menghidupkan taman pernikahan ini

Namun, Ya Allah, kami sedang ditimpa ujian dari-Mu

Izinkan kami selalu bersyukur dan bertahan atas pernikahan ini untuk lebih cinta pada-Mu

QS Asy-Syams

  

وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ

Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),


وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ

demi bulan saat mengiringinya,

Qur'an Surat Ad-Duha

 

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu duha


وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,

Mahligai Gedung Paksur

 














Angin Sukaraja membelai mahligai pernikahan di Gedung Paksur

Sembilan belas juli dua ribu tiga awal dari kesetiaan abadi 

Tiba waktu ukir akad nikah di tanah Bogor

Ruh-ruh kami Kau persatukan dalam perkawinan sakral

Ibadah pada-Mu kan jadi pilar suci dalam rumah tangga

Langkah pertama itu hanya awal sajadah panjang kehidupan

Ikatan jiwa ini tak kan rekah oleh terjangan badai 

Akar-akar cinta 'kan trus tumbuh tembus ujian waktu

Namun jika durjana rangkul kelam

Ingin kami selalu adakan pelangi s'telah badai berlalu


Tidak Tahu Kita.. Bila Harinya Tanggung Jawab Tiba

Ketika Tangan dan Kaki Berkata Akan datang hari mulut dikunci Kata tak ada lagi Akan tiba masa tak ada suara Dari mulut kita Berkata tangan ...